Sabtu, 08 September 2012

Kau Tinggalkan ku Dalam rapuh


Lihat air mata dipipiku ini yang belum kering benar karena sakit dari penyakit yang aku derita, dan siang ini aku harus merasakan sakit lagi karena kamu meninggalkan aku dengan mendadakan aku tak mengerti betul dengan alasanmu meninggalkan ku, malam kemarin aku masih mendapakan telepon darimu aku masih bisa mendengarmu memanggil ku sayang, tapi siang ini? kamu meninggalkanku, siang ini juga kamu mengantarku pulang kerumah sepanjang perjalanan aku tak ingin melepaskan tubuhmu dari pelukanku rasanya aku ingin mengatakan "tolong jangan tinggalin aku, aku sayang kamu aku butuh kamu sayang" tapi bibirku tak mampu untuk mengatakan semua itu, hanya tangisku yang mampu mengatakan bahwa aku sayang kamu, aku tak ingin kamu meninggalkan aku.
sesampainya dirumah kamu pun langsung meningglakan aku tidak berkata sepatah pun, seraya aku masuk kedalam kamarku, hatiku tak bernah berhenti memaki Tuhan aku selalu berkata "Tuhan kenapa dia tinggalkan aku saat aku sakit? saat aku terpuruk saat penyakit ini semakin menggerogoti tubuhku, kenapa Tuhan? katanya Engkau sayang aku, tetapi kenapa kau biarkan dia pergi dari hidupku?" semua pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan air mata yang tak bisa berhenti dari ekor mata ku, aku ingin kuat aku ingin bertahan tetapi kenapa keadaan memaksaku untuk menyerah? sakit hatiku ketika mengingat dia berkata "kamu hanya wanita berpenyakit, tak pantas lah kamu memintaku untuk selalu bersamamu, atau kemu hanya berpura-pra untuk mendapat perhatianku?" sakit hatiku mendengarnya tak sedikitpun aku befikir untuk seperti itu, aku tulus mencintainya Tuhan.
Kini aku tahu apa alasan dia meninggalkan aku, ada wanita lain yang sangat didambanya, wanita beparas cantik dan berambut panjang, aku tahu iu salah satu alasanmu mengapa meninggalkanku, aku tahu aku tak secantik dia, aku pun tahu dia jauh lebih pintar dan sederajat denganmu, aku tahu aku hanya wanita yang memang tak layak untukmu.
Tapi apa kamu tahu jika wanita itu tidak setulus aku, apa kamu juga tahu bahwa wanita itu hanya menginginkan hartamu? aku tahu kau menyukai wanita itu dengan tulus, tetapi sebenarnya wanita itu tidak pernah tulus mencintaimu apa kamu sadar itu? lihat aku, walaupun aku lemah aku selalu tulus mencintaimu, tak pernah sedikitpun aku mengeluhkan apa yang kau lakukan padaku, bahkan saat kamu menginginkan kita berpisah aku masih sempat menganggap bahwa itu salah satu caramu mencintaiku, sampai akhirnya aku tahu kau meninggalkanku karena wanita itu sakit hatiku, tak percaya rasanya melihat semua krnyataan ini.
Siapa yang memberikan nomer handpone ku padanya? Siapa? Mengapa orang itu memberikan? Siapa? Siapa yang memberikan, hatiku tak pernah berhenti bertanya, sakit rasanya saat dia meminta izin padaku untuk menerima cintamu, aku tak bisa menjawab saat itu, butuh beberapa hari untuk tanganku bisa mengetik pesan untuknya aku hanya bisa menjawab “iya sihkan saja jika kamu ingin menjalin hubungan dengannya, tapi kamu harus tau aku sangat mencintainya, aku hanya ingin melihat dia bahagia dengan orang yang dia pilih, dan aku tau itu kamu, tolonmg sayngi dia setulus dia menyayangimu” dengan ragu aku mengirim pesan itu,
sampai akhirnya aku gagal mengikuti suatu Ajang karena sebelum kompetisi tersebut dia memaki-maki aku karena wanita itu menolak cintanya, saat wanita itu menolak cintanya dia beralasan aku yang melarangnya untuk menerimanya, padahal aku sangat mendukung mereka, karna yang aku mau hanya melihat orang yang aku cintai bahagia, selama aku mengikuti kompetisi itu hatiku selalu sedih karena mengingat apa yang dia katakan. Untuk membuktikan bahwa aku tidak lemah aku akan melakukan apapun untuknya.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk operasi untuk mengangkat penyakit yang aku derita, sejujurnya aku takut operasi aku takut jika tubuhku meninggalkan bekas, tapi tak mau aku dianggpnya lemah, sampai akhirnya aku pergi kesuatu kota untuk operasi, tidak nyaman hatiku aku takut aku gelisah, tetapi aku juga ingin membuktikan bahwa aku tidak ingin dikasihani dengan siapapun aku memang sayang dia tetapi aku tidak bisa terus menerus mendengan cercaannya untukku, akhirnya operasiku lancar dan aku dapat membuktikan padanya bahwa aku tidak pernah mau hidup dari belaskasihannya