Selama Aku Masih Bisa Tersenyum Berarti Aku masih Strong, Dan Selama Kakiku Masih Bisa Menopang Tubuhku Berarti Aku Masih Sehat
Senin, 01 September 2014
Ragaku Memang Rapuh, Tapi Tidak Jiwaku
Hari itu saat aku duduk di kelas 11 SMA kalian mulai menyergap tubuhku satupersatu kalian mengambil tempat kalian masing-masing ditubuhku, perlahan aku mulai merasakan tubuhku semakin lemah kakiku mulai rapuh bahkan untuk sekedar berdiri tanganku sudah terlalu lelah untuk menghapus air mata yang terus membasahi tubuhku dan bibirku sudah terlalu lelah untuk tetap terus tersenyum tapi aku bisa apa ketika Tuhan-ku berkehendak ini jalan hidupku.
Januari 2011 bukan awal tahun yang membahagiakan untukku, ini pertamakalinya aku masuk keruangan asing ini keruangan yang sunyi semuanya berwarna hijau ruangan ini sangat dingin sangat beda dengan ruangan lainnya ruangan dengan semua orang menggunakan tutup kepala dan baju yang berwarna hijau juga saat itu aku menangis tanpa tau apa yang nanti akan terjadi, aku diletakkan tepat dibawah lampu yang menyoroti wajahku-aku di kelilingi banyak orang yang menggunakan baju hijau itu-mereka menarik kain hijau yang membatasi wajahku dengan tubuhku-mereka menyuruhku duduk sambil memeluk bantal-ada benda asing yang menembus tulang belakangku-aku melemas tapi tetap pada kesadaranku sampai mereka menyuruhku kembali berbaring-tengisku semakin menjadi ketika kakiku setengah matirasa tapi aku masi sadar, aku hanya menatap salah satu dari mereka wajah yang satu-satunya aku kenal diruangan itu, hingga diamendekati aku sambil mengusap kepalaku, aku masi ingat betul apa yang dia katakan “tenang ya dek, kamu percayakan sama saya, kamu mau sembuhkan nih diputerin lagu ya udah jangan nangis lagi” aku masih diam melihat dia sambil menatap penuh harap agar mereka melepaskan ku diri ruangan dingin itu, pria itu terus mengajakku berbicara sampai akhirnya aku hilang kesadaran. >< 4jam aku tidak sadar sampai akhirnya kesadaranku mulai kembali aku merasa ada yang tertarik didalam perutku aku mual, aku merasa ada yang menarik-narik isi rongga perutku tangisku kembali memecah mereka berusaha menenangkan aku. Sampai akhirnya aku dikeluarkan dari ruangan itu aku menggigil-aku mual-aku pusing-aku gelisah lalu entah apa yang terjadi aku kembali tidak sadar sampai aku bangun keesokan paginya dengan keadaan tidak bisa bergerak karena bekas Operasi Ampediks semalam. Kesehatan ku mulai membaik dalam waktu 3hari sampai akhirnya dokterku mengizinkan aku pulang. Akhu fikir penderitaanku sudah selesai tapi ternyata....
April 2011 bukan juga bulan yang bisa membuat sedikit senyum diwajahku, hari ini aku kembali ketempat itu karna perut bagian bawahku sangat sakit sampai membuat aku pingsan disekolah air seni-ku berwarna merah warnanya seperti sirup aku bingung apa yang sedang aku alami ini perasaan takut yang ada saat itu sangat berlebih aku fikir terjadi sesuatu pada rahimku tapi ternyata bukan pada rahimku tapi pada ginjalku, pagi itu dokterku mengunjungi bangsalku dan memberitahu hasil USG semalam ada 2batu diginjal kanan dan kiriku, entah apa yang aku fikirkan saat itu fikiranku sudah sangat melayang aku membayangkan cuci darah bahkan transplantasi ginjal tetapi sekali lagi Tuhanku masih menyangi aku. Dokter urologiku memberikan saran untuk menghilangkan batu ginjal melalui cairan infus saja karna umurku yang masih dibawah umur saat itu, orang tua ku menyetujui saran dari dokter akhirnya aku menerima infusan itu selama 2 minggu, infusan itu sangat keras untung lambung, setiap aku dimasukkan cairan itu aku selalu muntah-muntah lidahku terasa pahit sekali. Sampai akhirnya dojter mengizinkan aku pulang karena batu ginjalku sudah hilang.
Mei 2011 bulan yang membuatku semakin terguncang, hari itu aku kembali kerumah sakit untuk kontrol pasca rawat inap bulan lalu tapi kali ini aku datang membawa keluhan lagi feses ku darah perutku sakit tanganku pucat aku seperti tidak menapak sangat lemas sangat lemah hari itu aku datang mengenakan seragam sekolah putih-putihku darah membanjiri rok ku tanpa aku sadar padahal hari itu aku sedang tidak datang bulan, sampai akhirnya dokter Urologiku mengkonsulkan aku ke dokter internist. Dan hari itu juga aku daftar dan cek ke poli internist saat pertama melihat keadaanku dokter internist ku langsung memutuskan aku untuk Opname (lagi) dengan jarak hanya 1minggu dari opname yang sebelumnya- aku keluar aku lari menjauh dari ruangan itu aku menangis perasaan ku kacau hari itu sampai akhirnya satpam didepan rs ku menangkap aku, dibawanya aku keruang tindakkan disana sudah banyak suster yang menunggu disiapkannya alat infusku dipasangkannya satupersatu kali ini pembulu venna ku agak sulit ditemukan selain karna venna ku yang tipis karna venna ku sudah banyak yang pecah juga saat akan diambil darah untuk test ke lab darahku sudah tidakbisa diambil karna venna ku kering akhirnya suster membuat tempat baru untuk mengambil contoh darahku. Tidak lama aku dibawa keruangan rawat inap aku sudah bosan diruangan ini sampai akhirnya hari ke 2 saat temanku menjengukku aku memaksanya untuk membawaku kabur dari rs, tapi kali ini aku kembali tertangkap lagi oleh satpam di rs dan dibawa kembali ke kamar. Pagi ini dokterku visit ke kamarku dengam membawakan hasil darah bahwa hemoglobinku hanya 5,sekian yang membuatku disarankan untuk tranfusi darah tapi aku tetap tidak mau aku takut dan dokter menuruti mauku aku hanya diberikan obat pemberhenti pendarahan. Dan pagi ini juga dokter memberitahu aku terkena penyakit Melena mungkin sebagian dari kalian asing dengan penyakitku penyakit ini adalah pendarahan saluran cerna karena luka. Hampi 1,5 bulan aku dirawat di rs dan hampir setiap 3 bulan sekali aku dirawat sampai sekarang.
Aku sadar akan keterbatasan fisikku sekarang tetapi aku bukan orang yang mudah menyerah dan menganggap semua impianku berakhir disini, banyak orang yang meremehkan keterbatasannku ini banyak orang yang memandangku sebelah mata tidak terkecuali orang-orang terdekatku mereka sering sekali menyakiti persaanku dengan omonannya dari yang mengejekku penyakitan hingga yang menjauhi ku setelah mereka tahu keadaanku ini, tapi tidak sedikit dari mereka yang tidak percaya aku sakit karena sesakit apapun aku aku masih bisa tersenyum aku masih bisa menanggapi sindiran kecil mereka karena aku tidak ingin dipandang sebelah mata aku ingin sama seperti kalian. Penyakit ini ada didalam ragaku tapi bukan ada dalam jiwaku, mungkin kalian belum tentu bisa tersenyum seperti aku jika kalian yang berdiri diposisi ini.
Jakarta, 1 september 2014-
Syafitri Ajeng Kinanti
Langganan:
Komentar (Atom)